“Jokowi Masih Punya Magnet”, Seberapa Kuat PSI Bersaing dengan Partai Besar?

Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dinilai masih memiliki daya tarik politik yang berpotensi memberi efek elektoral bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Analisis itu muncul setelah kunjungan Jokowi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 mendapat sambutan masyarakat.
Direktur Eksekutif Trias Politika Agung Baskoro menilai NTT masih menjadi salah satu wilayah dengan basis dukungan laten bagi Jokowi.
Menurutnya, kondisi itu tidak terlepas dari pembangunan yang dilakukan selama dua periode kepemimpinan Jokowi sebagai presiden.
“NTT ini basis laten Pak Jokowi karena ia rutin membangunnya saat menjabat sebagai presiden sehingga wajar sambutan atas beliau meriah,” kata Agung saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (2/8/2026).
Menurut Agung, kedekatan Jokowi dengan PSI dapat memberikan dampak terhadap daya tarik politik partai tersebut.
Ia menilai figur Jokowi dan kekuatan partai dapat saling memperkuat dalam menarik perhatian pemilih.
“Sehingga saat Pak Jokowi sepaket dengan PSI otomatis magnet figurnya berpadu dengan kekuatan partai turut menguat,” ujarnya.
Agung menyebut salah satu indikator perkembangan PSI terlihat dari perolehan kursi di tingkat provinsi yang meningkat dari satu kursi pada Pemilu 2019 menjadi enam kursi pada Pemilu 2024.
PSI Diingatkan Bangun Kekuatan Sendiri
Meski demikian, Agung mengingatkan PSI tidak bisa hanya mengandalkan pengaruh Jokowi untuk menghadapi Pemilu 2029.
Menurutnya, partai tersebut tetap perlu memperkuat organisasi, kader, dan kerja politik di daerah pemilihan.
“Apakah PSI bisa mempertahankan bahkan meningkatkan raihan elektoralnya di tengah gempuran partai-partai besar? Sehingga mau tak mau PSI harus mawas, tetap fokus merawat dapil dan tak tergantung sepenuhnya dengan Pak Jokowi,” kata Agung.
Sementara itu, Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PSI Ahmad Ali menilai sambutan masyarakat NTT terhadap Jokowi berkaitan dengan rekam jejak pembangunan selama satu dekade pemerintahannya.
“Pak Jokowi mungkin sudah tidak lagi menjabat sebagai Presiden, tetapi karya dan pengabdiannya masih dirasakan masyarakat. Rakyat selalu memiliki cara untuk menghargai pemimpin yang bekerja dengan sungguh-sungguh,” ujar Ahmad Ali, Sabtu (1/8/2026).
Figur Jokowi dapat menjadi faktor politik bagi PSI, tetapi keberlanjutan dukungan menuju Pemilu 2029 tetap bergantung pada kemampuan partai membangun basis pemilihnya sendiri.
Terbit di Tribunnews


