logotrias
  • Tentang Kami
  • Layanan
  • Portofolio
  • Publikasi
  • Artikel
Contact Us
Kutipan, Media

Pembagian Kerja Prabowo-Gibran Baik, tapi Perlu Naikkan Kinerja

November 14, 2025 admin
Pembagian Kerja Prabowo-Gibran Baik, tapi Perlu Naikkan Kinerja
Header Wansus Agung Baskoro dari Trias Politika. tirto.id/Fuad

Setahun berjalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menampilkan pola pembagian kerja yang cukup khas antara figur Negara dan Rakyat. Keduanya tidak cuma berbagi peran, tetapi juga terkesan membangun citra yang kontras satu sama lain.

Hasil riset Tirto menunjukkan bahwa presiden diposisikan sebagai wajah global Indonesia di panggung dunia, sementara wakil presiden menjadi ujung tombak penghubung pemerintah dengan rakyat di daerah. Pembagian kerja tersebut memang terlihat strategis.

Prabowo telah melakukan kunjungan luar negeri 36 kali dalam debutnya sebagai presiden–lebih banyak dibandingkan Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono pada periode yang sama. Pola kerja Prabowo di tahun pertamanya menandakan orientasi diplomatik dan kekuatan simbolik Indonesia sebagai pemimpin kawasan.

Decode Kunjungan Luar Negeri Prabowo
Decode Kunjungan Luar Negeri Prabowo. tirto.id/Prabowo

Sebaliknya, Gibran sudah melakukan 183 agenda kunjungan kerja ke daerah di tahun pertamanya. Hal itu secara kuantitas jauh mendominasi aktivitas lokal presiden sendiri. Dengan pola kerja seperti ini, harapan muncul bahwa kombinasi tersebut memperkuat legitimasi pemerintahan serta membangun citra pemimpin negeri yang komplementer dan sinkron.

Total Kunjungan Kerja Wapres Gibran di Tahun Pertama

Namun, tentu citra molek semata tak otomatis membuat kinerja pemerintah ikut wangi. Dari sisi kategori kunjungan kerja Prabowo dan Gibran di dalam negeri, Tirto menemukan masih didominasi oleh kegiatan bernuansa seremonial. Hasil ini menjadi tantangan tersendiri untuk membangun pemerintahan baru yang dirasakan rakyat secara nyata dan terasa dampaknya.

Menurut Direktur Eksekutif Trias Politika, Agung Baskoro, pembagian kerja antara presiden dan wakil presiden setahun ini cukup sukses dilaksanakan. Pimpinan negeri bisa berjaya di panggung global, sekaligus mampu menjaga kedekatan dengan rakyat pada tataran akar rumput.

Namun, kata Agung, memang pola kerja yang terbagi secara kontras ini tak semata-mata menjamin jalannya pemerintahan tanpa cacat. Masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa untuk empat tahun sisa pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Dan saya kira dalam beberapa hal fungsi-fungsi Gibran [sebagai wapres] untuk bisa lebih konkret dalam melakukan kinerja perlu dipastikan,” kata Agung dalam wawancara khusus dengan wartawan Tirto, Kamis (13/11/2025).

Lantas apakah pembagian kerja Prabowo-Gibran ini juga memiliki pengaruh nyata terhadap kinerja pemerintah? Bagaimana dengan efek elektoral dari pembagian kerja keduanya?

Simak analisis Agung Baskoro dalam petikan wawancara dengan Tirto di bawah ini:

Bagaimana Anda memandang pola pembagian kerja yang khas antara Prabowo dan Gibran?

Pembagian kerja, saya kira antara presiden dan wakil presiden ini berjalan baik. Sehingga negara terasa serba hadir dalam kehidupan masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri. Karena kebutuhan kehadiran negara begitu besar. Apalagi dalam kondisi saat ini, karena publik punya tuntutan aspirasi dan harapan besar terhadap pemerintah.

Apakah bisa dikatakan sukses pola kepemimpinan Prabowo-Gibran setahun ini?

Jika dikatakan sukses, ini baru tahun pertama ya. Saya kira masih banyak ujian yang akan dihadapi. Tapi sementara ini terlihat baik pembagian peran yang dilakukan.

Dan saya kira dalam beberapa hal fungsi-fungsi Gibran [sebagai wapres] untuk bisa lebih konkret dalam melakukan kinerja perlu dipastikan. Supaya dia tidak menjadi bulan-bulanan masyarakat di media sosial atau netizen semacam itu. Karena kini masih mempertanyakan janji-janji kampanye soal lapangan pekerjaan ya.

Mampukah Gibran berperan lebih konkret seperti Wapres sebelumnya, misal Jusuf Kalla atau Boediono misalnya?

Kita tahu Girban ini masih sering dikritik karena kinerjanya. Sebetulnya dengan pembagian tugas seperti saat ini, harapannya berbagai kritik kepada gibran bisa minimal. Tapi ini semua masih tidak cukup.

Karena butuh bukti gebrakan dari seorang wapres yang mewakili milenial dan Gen Z. Misal Gibran bisa melakukan apa soal ekonomi, soal lapangan pekerjaan dan PHK yang menimpa anak-anak muda saat ini.

Di sisi lain, peranan Gibran sebagai pelengkap adalah semacam sebuah kewajaran. Kalau dibandingkan wapres-wapres sebelumnya juga sebetulnya demikian. Tetapi memang ada anomali ketika Wapres Jusuf Kalla ya, yang sangat aktif dan atraktif.

Tapi akhirnya semacam memunculkan matahari kembar. Kita tidak mau ini terjadi di masa pemerintahan presiden Prabowo. Artinya, setiap Gibran melakukan pola kerja koordinasi dan sinkronisasi itu harus selalu dikombinasikan dengan arahan presiden. Sebab dia adalah pembantu presiden.

Tapi kita juga melihat Gibran mendominasi kunjungan daerah, apakah ini berdampak kepada elektabilitasnya?

Saya melihat elektabilitas ini lebih banyak pengaruhnya terhadap kinerja. Selain itu, dampak arahan konkret [wapres] di bidang ekonomi, politik, hukum. Tetapi biasanya hasil semuanya biasanya tertuju pada kinerja presiden.

Jadi selama ini seringnya elektabilitas presiden akan lebih tinggi dibandingkan wapres. Dan mau tidak mau Gibran sebagai wapres akan lebih banyak menyesuaikan dan lebih banyak menunggu arahan. Hal ini kenapa elektabilitas wapres diprediksi di bawah presiden.

Apakah artinya ada peluang bagi Gibran memanfaatkan tugasnya untuk membangun basis massa?

Bisa atau tidak membangun basis massa ini relatif. Apakah koversi itu dapat dioptimalkan atau dikanalisasi Gibran dan timnya di lapangan. Karena meraih simpati masyarakat perlu banyak hal yang harus dilakukan.

Apalagi ini semua berkelindan dengan keadaan Gibran dan keluarga Solo [keluarga Jokowi] yang sampai sekarang mendapatkan serangan politik bertubi-tubi.

Apakah ini karena kunjungan-kunjungan presiden dan wapres masih sebatas agenda seremonial?

Saya kira di panggung depan memang tampaknya seremonial. Tapi sesungguhnya di balik kegiatan itu ada banyak hal-hal yang sudah dan telah dilakukan. Karena keputusan presiden dan wapres ke sebuah lokasi atau daerah pastinya diputuskan secara seksama dan hati-hati menimbang banyak hal.

Sejauh ini kinerja presiden dan wakil presiden sudah baik. Tinggal ditingkatkan kualitasnya mengawal program-program besar yang menjadi fokus pemerintahan seperti MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat, Cek Kesehatan Gratis, dll.

Bagaimana bentuk konkretnya?

Dalam konteks kualitas, bagaimana memastikan zero tolerance MBG terhadap keracunan. Kopdes Merah-Putih juga harus memiliki bobot baik sejalan konstitusi. Sekolah Rakyat juga demikian, harus berjalan baik dan menghasilkan lulusan berkapasitas tinggi.

Dan soal Cek Kesehatan Gratis agar semakin merata dan diakses semua orang. Ini semua seharusnya [Prabowo dan Gibran] bisa saling melengkapi, karena kerja wapres ditentukan presiden. Karena wapres tidak bergerak sendiri sebab dia pembantu presiden.

Lantas, bagaimana agar legitimasi pemerintahan Prabowo-Gibran bisa terus tinggi?

Dengan memastikan kualitas program program besar berjalan baik. Itu tadi MBG, Koperasi desa, Cek Kesehatan Gratis itu bisa terlaksana lebih baik dan minim masalah.

Dan harapannya program-program baru bisa juga dihadirkan dalam kerangka mendekatkan masyarakat dengan pemerintah. Hal lain mungkin soal insentif bantuan langsung tunai (BLT) atau subsidi agar dikawal sehingga tepat sasaran. Sehingga himpitan ekonomi sebagian warga kita bisa segera diatasi.


Terbit di Tirto

  • Tirto
admin

Trias Politika Strategis adalah lembaga riset, survei, dan strategi politik. Fokus mengawal demokrasi Indonesia melalui layanan akademis berkualitas, pemenangan politik, media monitoring, serta pendampingan politik, dengan pengalaman mendukung partai, perusahaan, dan kandidat strategis.

Post navigation

Previous
Next

Search

Categories

  • Kutipan (442)
  • Media (446)
  • Press Release (7)

Recent posts

  • 10 Kepala Daerah Kena OTT KPK, Bukan Berarti Harus Pilkada Tak Langsung
    10 Kepala Daerah Kena OTT KPK, Bukan Berarti Harus Pilkada Tak Langsung
  • Terima Megawati di Istana, Prabowo Dinilai Negarawan dan Dewasa Berpolitik
    Terima Megawati di Istana, Prabowo Dinilai Negarawan dan Dewasa Berpolitik
  • Has Indonesia jumped to US camp? It’s not so simple
    Has Indonesia jumped to US camp? It’s not so simple

Tags

Alinea Antara Berita Satu Bisniscom Bloomberg CNA CNBC Indonesia CNN CNNIndonesia Detikcom IDN Times Inilahcom Jakarta Globe Jawa Pos Katadata Kompas Kumparan Liputan 6 Media Indonesia Merdeka Metro TV Metro TV News okezone Rakyat Merdeka Republika SINDONews Sin Po Suara Tempo The Jakarta Post The Star The Strait Times Tirto TribunNews tvonenews TVRI News Viva VOI Warta Kota

Lanjut membaca

Media Haus Rating, Ruang Publik Disesatkan Figur Kontroversial
Kutipan, Media

Media Haus Rating, Ruang Publik Disesatkan Figur Kontroversial

March 14, 2026 admin

Video kemunculan Permadi Arya alias Abu Janda dalam program “Rakyat Bersuara” di iNews TV beberapa waktu lalu memantik polemik di ruang publik. Sikap yang dia tunjukkan dalam forum debat tersebut memicu kemarahan penonton hingga berujung pada pengusiran oleh pembawa acara sekaligus Pemimpin Redaksi iNews, Aiman Witjaksono. Namun, polemik semacam ini bukanlah yang pertama bagi Abu […]

Saat Golkar All in ke Prabowo, Mengapa Partai Lain Belum?
Kutipan, Media

Saat Golkar “All in” ke Prabowo, Mengapa Partai Lain Belum?

February 25, 2026 admin

Meskipun pemilihan umum masih sekitar tiga tahun lagi, Partai Golkar tampak tidak sabar untuk kembali mengusung Prabowo Subianto dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2029. Keseriusan partai berlambang pohon beringin itu tercermin dalam berbagai sikap dan kebijakan strategis yang telah mereka ambil sejak jauh hari. Sejak jauh hari, Golkar telah menyatakan komitmennya untuk mendukung Prabowo selama dua […]

Di Balik Tawaran Prabowo Bangun Gedung Baru untuk Ormas Islam
Kutipan, Media

Di Balik Tawaran Prabowo Bangun Gedung Baru untuk Ormas Islam

February 12, 2026 admin

Dalam acara pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2025-2030, Presiden Prabowo Subianto dengan mantap mengumumkan ide pembangunan gedung 40 lantai untuk kantor MUI dan organisasi Islam di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Di atas lahan setidaknya 4.000 meter persegi, Prabowo berencana menempatkan lembaga-lembaga umat Islam di jantung ibu kota Indonesia. Secara jelas, Prabowo mengungkap ide […]

logotrias

Lembaga penyelenggara jasa riset/survei, media monitoring, analisa strategi politik, pemenangan politik, dan pendampingan politik pasca memenangkan pemilihan.

About Us
  • About Us
  • What We Do
  • Our Work
  • Publications
  • News & Insight
  • Contact Us
Social
  • WhatsApp
  • X/Twitter
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Tiktok

© 2026 Trias Politika Strategis. All rights reserved.

  • Web Development by Metahuis