Skip to content
logotrias
  • Tentang Kami
  • Layanan
  • Portofolio
  • Publikasi
  • Artikel
Contact Us
Kutipan, Media

10 Kepala Daerah Kena OTT KPK, Bukan Berarti Harus Pilkada Tak Langsung

March 22, 2026 admin
10 Kepala Daerah Kena OTT KPK, Bukan Berarti Harus Pilkada Tak Langsung
Bupati Pekalongan Fadia Arafiq. (ANTARA Foto/Muhammad Adimaja)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat ada 10 kepala daerah hasil Pilkada 2024 yang terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) dalam setahun terakhir.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan, kepala daerah yang tertangkap tangan tersebut punya modus serupa seperti suap proyek, pemerasan, jual beli jabatan, hingga gratifikasi. KPK memandang hal tersebut merupakan peringatan keras untuk perbaikan menyeluruh.

“Serangkaian persoalan ini harus menjadi peringatan keras sekaligus sinyal untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh. Tidak hanya memperkuat tata kelola, tetapi juga membangun kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan publik,” ujar Budi dikutip Jumat (20/3/2026).

1. Banyak kepala daerah kena OTT karena biaya politik tinggi

Bupati Pati Sudewo
Bupati Pati Sudewo (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pengamat Politik, Agung Baskoro, menilai, salah satu penyebab banyaknya kepala daerah yang kena OTT adalah biaya politik yang tinggi. Misalnya, kandidat masih dibebankan untuk membayar biaya promosi agar dipilih dengan biaya yang mahal seperti baliho dan spanduk, serta ‘serangan fajar.’

Agung menyarankan agar seluruh biaya kampanye kandidat dibebankan dan diatur oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dengan begitu, kandidat tak perlu memikirkan biaya yang dikeluarkan untuk berkampanye.

“Contohnya gimana? Misalnya dia mau promosi, nah itu difasilitasi oleh KPU. Jadi yang mau berkampanye itu, ya, pakai media sosial saja. Itu kan murah, efisien. Jadi gak perlu lagi pasang baliho, spanduk. Ya, pun kalau pasang, itu yang memfasilitasi KPU. Jadi biayanya dari negara,” ujar dia kepada IDN Times.

“Yang kedua, gimana lagi bisa promosi? Ya, waktu debat kandidat. Jadi kalau saya menyarankan debat kandidat itu kalau bisa bukan hanya di istilahnya di ruang publik misalnya di televisi, di kampus juga bisa, di mimbar-mimbar umum tapi itu difasilitasi oleh KPU. Jadi, ya, promosinya di situ, di media sosial, saat forum debat kandidat sehingga bisa meminimalkan biaya,” lanjut dia.

2. Kepala daerah dipilih DPRD bukan solusi

Biaya politik tinggi juga kerap disinggung oleh partai politik. Namun, sejumlah partai mengusulkan agar Pilkada tak lagi dipilih langsung rakyat, melainkan lewat DPRD. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto pun mendukung wacana tersebut.

Agung menilai, penghapusan pilkada langsung bukan solusi tepat dalam memecah masalah biaya politik yang tinggi. Menurut dia, hal itu justru akan menjadi bom waktu.

“Ya, sama aja ini saya bilang ini masalah ditimpa masalah. Kita juga punya trauma panjang ketika pemilihan lewat kepala daerah kan melalui DPRD semacam itu,” ujar dia.

“Problemnya ini kan di biaya, di hilir nih ya. Kok yang diamputasi hulunya? Hak kita untuk berdemokrasi, hak kita memilih kepala daerah langsung,” lanjut dia.

Agung mengatakan, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah reformasi partai politik. Caranya adalah dengan melakukan desentralisasi.

“Jadi kalau saya yang harus direformasi partainya terus solusi untuk biaya kampanye mahal, ya, saya bilang tadi semuanya ditanggung KPU. Kampanyenya di mana? Lewat debat, lewat medsos itu kan gratis semua harusnya. Kandidat gak perlu ngeluarin budget,” ujar dia.

“Pokoknya gak boleh ada budget yang keluar dari kandidat ketika masa kampanye karena debat ditanggung KPU, ya, iklan di medsos ditanggung KPU, iklan di TV ditanggung KPU, iklan di radio ditanggung KPU. Butuh baliho? Oh, ya, butuh. Ya, udah pasang aja di tempat strategis dan itu ditanggung KPU,” kata dia.

3. Kepala daerah dipilih DPRD dinilai hanya memindahkan korupsi

Koordinator Pelaksana IM57+ Institute:Eks Penyidik KPK, Praswad Nugraha
Koordinator Pelaksana IM57+ Institute/Eks Penyidik KPK, Praswad Nugraha (IDN Times/Athif Aiman)

Senada dengan Agung, mantan Penyidik KPK, Praswad Nugraha, menilai, menghilangkan hak rakyat memilih kepala daerah secara langsung bukan solusi yang tepat. Menurut Praswad, korupsi tak akan hilang meski pilkada dipilih lewat DPRD.

“(Pilkada dipilih DPRD) bukan solusi. Itu kan karena mereka ingin mindahin korupsinya,” ujar Praswad kepada IDN Times.

“Tadinya diperluas gitu pemberian uangnya ke masyarakat, jadi pemberian uangnya ke diri dia. Karena rakus saja,” lanjut dia.

4. Jangan kambing hitamkan sistem demokrasi

Praswad mengatakan, apabila sistem pilkada dikembalikan seperti era Orde Baru, maka sama saja dengan menghancurkan demokrasi. Hal ini seperti menciptakan bom waktu dan akan memunculkan reformasi jilid dua karena semua tersentralisasi.

“Jadi jangan coba-coba mengambinghitamkan sistem demokrasi kita atas buruknya akhlak moral pemimpin-pemimpin kita, menyalahkan sistem,” ujar dia.

5. Daftar kepala daerah yang kena OTT

Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang
KPK tetapkan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang dan ayahnya tersangka (IDN Times/Aryodamar)

Berdasarkan catatan KPK, ada 10 kepala daerah hasil PIlkada 2024 yang kena OTT dalam waktu setahun terakhir. Artinya, mayoritas dari mereka belum genap setahun menjabat setelah dilantik pada Februari 2025.

Kepala daerah hasil Pilkada 2024 pertama yang ditangkap KPK melalui OTT adalah Bupati Kolaka Timur. Dia ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap proyek pembangunan RSUD di Kolaka Timur.

Pada November 2025, KPK melakukan dua kali tangkap tangan terhadap kepala daerah. Mereka yang kena OTT pada November 2025 adalah Gubernur Riau Abdul Wahid dan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Abdul Wahid ditetapkan sebagai tersangka pemerasan proyek jalan dan jembatan, sedangkan Sugiri terkait suap dan gratifikasi pengurusan jabatan.

Pada Desember 2025, KPK kembali melakukan dua kali tangkap tangan terhadap kepala daerah. Mereka adalah Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya dan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang.

Lalu, KPK membuka tahun 2026 dengan dua kali OTT kepala daerah pada Januari 2026. Kepala daerah yang kena OTT kali ini adalah Wali Kota Madiun Maidi dan Bupati Pati Sudewo.

Pada Maret 2026, ada tiga kepala daerah yang kena OTT KPK. Mereka adalah Bupati Pekalongan Fadia Arafiq, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri, dan Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman.


Terbit di IDN Times

  • IDN Times
admin

Trias Politika Strategis adalah lembaga riset, survei, dan strategi politik. Fokus mengawal demokrasi Indonesia melalui layanan akademis berkualitas, pemenangan politik, media monitoring, serta pendampingan politik, dengan pengalaman mendukung partai, perusahaan, dan kandidat strategis.

Post navigation

Previous
Next

Search

Categories

  • Kutipan (601)
  • Media (605)
  • Press Release (7)

Recent posts

  • Gibran in limbo as House mulls response
    Gibran in limbo as House mulls response
  • Apakah Hak Menyatakan Pendapat Upaya Lain Memakzulkan Gibran?
    Apakah Hak Menyatakan Pendapat Upaya Lain Memakzulkan Gibran?
  • Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?
    Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?

Tags

Alinea Antara Berita Satu Bisniscom Bloomberg CNA CNBC Indonesia CNN CNNIndonesia Detikcom Garuda TV IDN Times Inilahcom Investor ID Jakarta Globe Jawa Pos Katadata Kompas Kumparan Liputan 6 Media Indonesia Merdeka Metro TV Metro TV News nusantaratv okezone Rakyat Merdeka Republika SINDONews Sin Po Suara Tempo The Jakarta Post The Star The Strait Times Tirto TribunNews tvonenews TVRI News Viva VOI Warta Kota

Lanjut membaca

Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?
Kutipan, Media

Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?

November 4, 2026 admin

Sosok publik figur yang juga Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, semakin jadi sorotan usai menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda di Bunderan HI pada Kamis, 29 Oktober 2026. Sebab, sekelompok individu yang mengenakan jaket almamater tak semuanya merupakan mahasiswa. Sebagian akhirnya mengakui dibayar untuk ikut hadir dan berpura-pura menjadi mahasiswa. […]

Dua Orang Jokowi Diganti, Analis: Cara Hambalang Kurangi Pengaruh Solo
Kutipan, Media

Dua Orang Jokowi Diganti, Analis: Cara Hambalang Kurangi Pengaruh Solo

October 5, 2026 admin

Direktur Trias Politika, Agung Baskoro, mengatakan, dalam reshuffle ke-7 yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026), ada dua orang yang dijadikan sasaran tembak, yaitu Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Pratikno. Sigit digeser dari posisi Kapolri menjadi Kepala Staf Presiden (KSP). Sementara, Pratikno dicopot dari kursi Menteri Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Menurut […]

Mengapa Kasus Pemerasan Kerap Menjerat Kepala Daerah?
Kutipan, Media

Mengapa Kasus Pemerasan Kerap Menjerat Kepala Daerah?

October 2, 2026 admin

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak Januari hingga September 2026 telah 21 kali melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 di antaranya menjerat kepala daerah. Mayoritas kepala daerah yang kena OTT dijerat Pasal 12e Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut mengatur pemerasan yang diduga dilakukan pejabat. 1. Bupati Bolmut sosok terakhir yang jadi […]

logotrias

Lembaga penyelenggara jasa riset/survei, media monitoring, analisa strategi politik, pemenangan politik, dan pendampingan politik pasca memenangkan pemilihan.

About Us
  • About Us
  • What We Do
  • Our Work
  • Publications
  • News & Insight
  • Contact Us
Social
  • WhatsApp
  • X/Twitter
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Tiktok

© 2026 Trias Politika Strategis. All rights reserved.

  • Web Development by Metahuis