logotrias
  • Tentang Kami
  • Layanan
  • Portofolio
  • Publikasi
  • Artikel
Contact Us
Kutipan, Media

Mengapa Marsinah dan Soeharto bersanding jadi pahlawan nasional menuai kritikan keras?

November 11, 2025 admin
Mengapa Marsinah dan Soeharto bersanding jadi pahlawan nasional menuai kritikan keras?
Mantan Presiden Soeharto (kiri) mendapatkan gelar Pahlawan Nasional bersama dengan sejumlah tokoh lain, termasuk Marsinah (kanan), aktivis buruh yang tewas dibunuh. (Foto: Dok. Setpres RI/Wikipedia)

Mantan Presiden Soeharto mendapatkan gelar Pahlawan Nasional bersama dengan sembilan tokoh lainnya, termasuk Marsinah, aktivis buruh yang tewas dibunuh 32 tahun yang lalu.

Penetapan Soeharto sebagai pahlawan sudah menuai kecaman dari para aktivis HAM dari sejak lama, terlebih lagi kini nama itu disandingkan dengan Marsinah yang dianggap korban kekerasan militer zaman Orde Baru.

Made Supriatma, pakar politik sekaligus peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, menuliskan dalam postingan Facebooknya di hari penganugerahan gelar pahlawan nasional, Senin (10/11), bahwa menyandingkan Soeharto dan Marsinah “bagai menggarami luka.”

“Ini persis seperti menyandingkan pembunuh dan korbannya. Militer yang diduga membunuh Marsinah beroperasi atas perintah Soeharto untuk membungkam hak-hak buruh atas hidup layak,” kata Made.

Sebelumnya para aktivis HAM dan akademisi telah menolak keras penganugerahan gelar pahlawan kepada Soeharto. Mereka menjabarkan sederet pelanggaran HAM selama lebih dari tiga dekade Orde Baru berkuasa.

Menurut Made, dengan memasukkan nama Marsinah sebagai pahlawan nasional, pemerintah seakan ingin menjadikannya “pemutih dan penetral kontroversi tentang Soeharto”.

Sementara pengamat lainnya mengatakan bahwa mengangkat Soeharto adalah bentuk politisasi gelar pahlawan yang telah dilakukan sejak zaman Presiden Joko Widodo.

“Ini adalah perwujudan politik rangkulisme, karena pemerintah ingin mengakomodasi semua kepentingan,” kata Agung Baskoro, pengamat politik dari lembaga think tank Trias Politika Strategis.

SOEHARTO-MARSINAH SUDAH DIAJUKAN SEJAK LAMA

Nama Soeharto telah dibahas untuk mendapatkan gelar pahlawan sebanyak tiga kali, pertama pada 2010 di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada masa Presiden Jokowi dan tahun ini. Setiap kali muncul nama Soeharto, aktivis HAM bergerak menggelar protes.

“Soeharto, yang berkuasa selama 32 tahun, telah membawa bangsa ini pada apa yang telah disematkan oleh reformasi sebagai bapak kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN),” kata Ray Rangkuti, direktur lembaga Lingkar Madani sekaligus mantan aktivis 1998 yang turut menggulingkan Soeharto dalam peristiwa Reformasi kepada CNA Indonesia.

“Selain praktik KKN, penghormatan dan perlindungan terhadap HAM juga sangat merosot.”

Nama Marsinah telah diajukan sebagai Pahlawan Nasional sejak 2022, seperti yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Dikutip Antara, Khofifah mengatakan nama Marsinah diusulkan oleh berbagai serikat buruh di Indonesia, termasuk dari Jawa Timur dan Jakarta.

Pada prosesi di Istana Negara, Soeharto dan Marsinah diangkat sebagai Pahlawan Nasional bersama dengan delapan tokoh lainnya, termasuk Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan mantan Komandan RPKAD Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo.

Made mengatakan bahwa disandingkannya Marsinah dan Soeharto adalah “penghinaan atas penderitaan Marsinah, khususnya karena tidak ada orang yang bertanggungjawab atas kematiannya”.

Marsinah adalah buruh PT Catur Putra Surya di Sidoarjo yang dikenal aktif memperjuangkan hak pekerja dengan menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250 per hari serta menolak pemecatan buruh yang mogok kerja. Pada 5 Mei 1993, setelah mendatangi Kodim 0816 Sidoarjo untuk mencari tahu nasib rekan-rekannya yang dipanggil aparat, ia menghilang.

Tiga hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan di Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda penyiksaan berat. Penyelidikan resmi tak pernah mengungkap pelaku sebenarnya; semua terdakwa dibebaskan, dan dugaan keterlibatan aparat tak diusut tuntas. Hingga kini, Marsinah tetap dikenang sebagai simbol perjuangan buruh dan ketidakadilan pada masa Orde Baru.

“Kasus Marsinah ini ironis, tidak ada penyelesaian, padahal Komnas HAM menyelidiki ada keterlibatan militer, tapi tidak ada yang bertanggung jawab,” kata Made ketika dihubungi CNA Indonesia, Selasa (11/11).

Di masa pemerintahannya, Soeharto dikenal bertangan besi dengan berbagai catatan pelanggaran HAM berat, di antaranya yang disebut oleh Amnesty International Indonesia adalah: Pembantaian massal 1965–1966, penembakan misterius (Petrus) 1982–1985, tragedi Tanjung Priok 1984, Talangsari 1989, kekerasan di Aceh, Timor Timur, dan Papua, hingga penghilangan paksa aktivis menjelang kejatuhannya pada 1997–1998.  

“Negara telah mengakui peristiwa-peristiwa ini sebagai pelanggaran HAM berat, baik melalui Ketetapan MPR pada awal reformasi maupun pernyataan resmi Presiden Joko Widodo pada Januari 2023. Namun, hingga kini, tidak satu pun aktor utama termasuk Soeharto yang dimintai pertanggungjawaban,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid kepada CNA Indonesia.

Militer disebut terlibat dalam memuluskan agenda Soeharto, termasuk dalam memberangus suara aktivis buruh seperti Marsinah.

“Pada waktu itu penguasanya Soeharto, indikasi (pembunuhan Marsinah) dilakukan tentara. Soeharto mengeluarkan kebijakan kontrol terhadap buruh untuk mengamankan investasi,” ujar Made.

Made melihat gelar pahlawan untuk Marsinah seperti “tukar guling” untuk meredam protes dan kontroversi pemberian gelar yang sama untuk Soeharto.

“Ini merendahkan martabat Marsinah, karena menyandingkan dia dengan orang yang bertanggung jawab terhadap semua kekerasan pada semua, buruh khususnya,” kata Made.

Sementara Usman dari Amnesty mengatakan menyandingkan Soeharto dengan Marsinah dan Gus Dur adalah bentuk pengaburan nilai-nilai moral dan politik, sehingga menurut dia pemberian gelar untuk mantan presiden itu harus dibatalkan.

“Ini adalah pengaburan nilai moral dan politik, mengaburkan apa yang baik dan buruk, yang salah dan benar, yang etik dan tidak, yang pelaku dan yang korban, serta mana yang pahlawan dan mana pengkhianat dalam sejarah,” tegas Usman.

POLITISASI GELAR PAHLAWAN?

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang juga menjabat Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) mengatakan bahwa Soeharto telah memenuhi seluruh persyaratan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

“Seluruh nama yang diajukan telah melalui penelitian dan pengkajian mendalam oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), melibatkan pakar lintas disiplin ilmu, serta disinergikan antara pemerintah daerah dan pusat. Proses ini dilakukan secara ketat, objektif, dan transparan,” ujar Fadli seperti dikutip Detik pada Senin (10/11).

Pakar politik dari Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, melihat adanya niatan politis dalam penganugerahan gelar pahlawan ini. Selain Soeharto di poros Cendana, ada Gus Dur yang disebut Agung sebagai poros Ciganjur.

“Kita anggap poros masyarakat sipil adalah ibu Marsinah yang diangkat menjadi pahlawan,” kata Agung.

Strategi untuk merangkul semua pihak ini, kata Agung, dilakukan juga dalam pemberian amnesti dan abolisi kepada politisi PDIP Hasto Kristiyanto dan mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong beberapa waktu lalu oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Pola-pola semacam ini akan terus dilakukan oleh Presiden Prabowo untuk memastikan stabilitas nasional, harmoni antar-elite, maupun sinergi antara semua kelompok bangsa,” kata Agung.

Menurut Made, politisasi terhadap gelar kepahlawanan era Prabowo meniru apa yang dilakukan pendahulunya, Joko Widodo. “Jokowi sangat getol sekali memberikan gelar pahlawan, membuat nilainya menjadi sangat turun sekali sekarang,” kata Made.

Ke depannya, Made menduga Prabowo masih akan mengambil langkah-langkah untuk merangkul semua pihak dengan cara-cara seperti ini.

“Dia selalu berusaha menimimalisir ketidakpuasan dengan merangkul elite-elite yang bisa mendukung pemerintahan dan citranya. Tidak akan berhenti di sini,” kata Made.


Terbit di Channel News Asia

  • CNA
admin

Trias Politika Strategis adalah lembaga riset, survei, dan strategi politik. Fokus mengawal demokrasi Indonesia melalui layanan akademis berkualitas, pemenangan politik, media monitoring, serta pendampingan politik, dengan pengalaman mendukung partai, perusahaan, dan kandidat strategis.

Post navigation

Previous
Next

Search

Categories

  • Kutipan (374)
  • Media (378)
  • Press Release (7)

Recent posts

  • Pemerintah Dorong Merger Grab - GoTo, Ini Makna Politiknya
    Pemerintah Dorong Merger Grab – GoTo, Ini Makna Politiknya
  • Menanti Tuah Jokowi Effect pada PSI, antara Untung atau Buntung
    Menanti Tuah Jokowi Effect pada PSI, antara Untung atau Buntung
  • Jokowi Effect pada PSI Disebut Tergantung Kinerja Wapres Gibran
    “Jokowi Effect” pada PSI Disebut Tergantung Kinerja Wapres Gibran

Tags

Alinea Antara Berita Satu Bisniscom Bloomberg CNA CNBC Indonesia CNN CNNIndonesia Detikcom IDN Times Inilahcom Jawa Pos Katadata Kompas Kumparan Liputan 6 Media Indonesia Merdeka Metro TV Metro TV News Rakyat Merdeka Republika SINDONews Sin Po Suara Tempo The Jakarta Post The Star The Strait Times Tirto TribunNews Viva VOI Warta Kota

Lanjut membaca

Projo merapat ke Prabowo, memudarnya pengaruh Jokowi atau ada niat lain?
Kutipan, Media

Projo merapat ke Prabowo, memudarnya pengaruh Jokowi atau ada niat lain?

November 3, 2025 admin

Ormas Projo yang identik sebagai kelompok relawan pendukung mantan Presiden Joko Widodo menyatakan akan mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Bahkan Budi Arie, ketua umum Projo, menyiratkan akan bergabung ke Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo. Pernyataan ini disampaikan Budi ketika dia terpilih kembali menjadi Ketum Projo periode 2025-2030 pada Kongres III Projo di Jakarta, Minggu (2/11). […]

Indonesia’s US$1b economic stimulus- The smallest package of 2025, but will it pack the biggest punch?
Kutipan, Media

Indonesia’s US$1b economic stimulus: The smallest package of 2025, but will it pack the biggest punch?

September 17, 2025 admin

Indonesia’s latest stimulus package worth nearly US$1 billion not only aims to fuel economic growth but is also a political gesture to ease public discontent after recent mass protests, analysts said. Announced on Monday (Sep 15), the 16.23 trillion rupiah (US$989.3 million) package is the third rolled out in 2025, following January’s 33 trillion rupiah boost […]

Apa penyebab meledaknya aksi protes di Indonesia dan dampaknya bagi Presiden Prabowo?
Kutipan, Media

Apa penyebab meledaknya aksi protes di Indonesia dan dampaknya bagi Presiden Prabowo?

August 31, 2025 admin

Aksi protes berujung ricuh yang terjadi di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia pada Jumat (29/8) adalah kulminasi dari kekecewaan masyarakat terhadap anggota DPR yang dianggap tidak peka terhadap kesulitan yang dialami masyarakat saat ini, ujar para pengamat. Kekecewaan itu kemudian meledak ketika terjadi kekerasan oleh polisi yang menewaskan pengemudi ojek online pada aksi protes […]

logotrias

Lembaga penyelenggara jasa riset/survei, media monitoring, analisa strategi politik, pemenangan politik, dan pendampingan politik pasca memenangkan pemilihan.

About Us
  • About Us
  • What We Do
  • Our Work
  • Publications
  • News & Insight
  • Contact Us
Social
  • WhatsApp
  • X/Twitter
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Tiktok
© 2024 Trias Politika Strategis. All rights reserved.
  • Web Development by Metahuis