Skip to content
logotrias
  • Tentang Kami
  • Layanan
  • Portofolio
  • Publikasi
  • Artikel
Contact Us
Kutipan, Media

Narasi Bencana di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan

January 1, 2026 admin
Narasi Bencana di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan
Presiden Prabowo Subianto saat mengunjungi para pengungsi di Desa Sukajadi, Karang Baru, Aceh Tamiang, Jumat (12/12/2025).(Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Bencana besar di Sumatera pada akhir November lalu, bukan hanya ujian kapasitas negara dalam menyelamatkan warga dan memulihkan infrastruktur. Ia juga menjadi ujian yang jauh lebih sulit: ujian narasi. Di tengah skala kerusakan yang luar biasa—ratusan ribu pengungsi, ribuan kilometer jalan rusak, ratusan ribu rumah hancur—penilaian publik atas respons pemerintah terasa tidak pernah utuh. Bukan karena negara tidak bekerja, melainkan karena narasi penanganan bencana tidak pernah berada di ruang hampa. Pertama, ada kepentingan politik nasional yang tak terelakkan.

Bencana ini terjadi dalam periode awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sementara sebagian aktor politik nasional sudah mulai menata posisi menuju Pemilu 2029. Dalam konteks ini, bencana bukan semata tragedi kemanusiaan, melainkan juga menjadi arena pembentukan persepsi. Setiap kekurangan diperbesar, setiap keberhasilan diperkecil, dan setiap kebijakan dibaca bukan sebagai respons krisis, tetapi sebagai kalkulasi elektoral.

Di ruang publik, penanganan bencana kerap direduksi menjadi alat ukur legitimasi politik jangka panjang, bukan upaya darurat yang penuh keterbatasan objektif. Kedua, terdapat kepentingan politik daerah yang sama kuatnya. Bencana berskala besar membuka kembali perdebatan lama tentang dana transfer daerah, otonomi fiskal, dan relasi pusat–daerah. Tidak jarang, narasi ketertinggalan atau ketidakadilan struktural kembali dimunculkan untuk memperkuat tuntutan politik daerah. Dalam konteks Aceh, lapisannya lebih dalam. Sejarah separatisme, konflik, dan trauma relasi dengan negara pusat membuat setiap keterlambatan atau ketidaksempurnaan respons negara mudah dibaca sebagai pengabaian, bahkan ketidakpedulian yang disengaja. Akibatnya, upaya teknokratis seperti pengerahan sumber daya nasional atau koordinasi lintas kementerian kerap kalah oleh narasi identitas dan sejarah politik yang jauh lebih emosional. Ketiga, dan sering luput disadari publik, ada pula kepentingan politik global yang ikut membentuk citra penanganan bencana ini.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia mengambil posisi politik luar negeri yang lebih tegas, lebih independen, dan tidak selalu sejalan dengan preferensi kekuatan global tertentu. Dalam iklim geopolitik seperti ini, narasi kemanusiaan tidak selalu netral. Pemberitaan internasional, laporan lembaga non-negara, hingga framing media global dapat dipengaruhi oleh sikap politik terhadap Indonesia di panggung dunia. Kritik terhadap penanganan bencana, meskipun berangkat dari isu kemanusiaan, tidak jarang bercampur dengan ketidaksukaan terhadap arah kebijakan strategis Indonesia.

Di tengah tiga lapisan kepentingan ini—nasional, lokal, dan global—pemerintah berada dalam posisi yang nyaris mustahil. Setiap langkah dipantau, setiap keputusan ditafsirkan, dan setiap kekurangan diperbesar. Kerja lapangan yang kompleks, bertahap, dan sering kali tak sempurna sulit diterjemahkan menjadi narasi yang adil dan proporsional. Publik jarang melihat bahwa membangun kembali ribuan kilometer jalan, ratusan jembatan, dan ratusan ribu rumah bukan pekerjaan hitungan minggu, melainkan proses bertahun-tahun yang sarat koordinasi, anggaran, dan risiko teknis. Di sinilah problem utamanya: citra penanganan bencana tidak sepenuhnya ditentukan oleh fakta lapangan, tetapi oleh siapa yang berbicara, dari sudut pandang apa, dan untuk kepentingan apa. Akibatnya, diskursus publik sering terjebak pada dikotomi palsu—berhasil atau gagal—tanpa ruang bagi kenyataan yang jauh lebih kompleks. Memahami konteks ini bukan berarti meniadakan kritik. Kritik tetap penting, bahkan mutlak, agar negara terus memperbaiki diri. Namun, kritik yang adil harus lahir dari kesadaran bahwa bencana besar selalu terjadi di tengah politik besar.

Tanpa kesadaran ini, kita berisiko menilai respons negara bukan berdasarkan kapasitas nyata dan keterbatasannya, melainkan berdasarkan narasi yang dibentuk oleh kepentingan-kepentingan di luar kepentingan korban. Pada akhirnya, tantangan terbesar pemerintah dalam bencana Sumatera ini bukan hanya membangun kembali rumah dan jalan, tetapi membangun pemahaman publik bahwa di balik hiruk-pikuk politik, ada kerja nyata yang berjalan—pelan, berat, dan sering kali tanpa tepuk tangan.


Terbit di Kompas

  • Kompas
admin

Trias Politika Strategis adalah lembaga riset, survei, dan strategi politik. Fokus mengawal demokrasi Indonesia melalui layanan akademis berkualitas, pemenangan politik, media monitoring, serta pendampingan politik, dengan pengalaman mendukung partai, perusahaan, dan kandidat strategis.

Post navigation

Previous
Next

Search

Categories

  • Kutipan (601)
  • Media (605)
  • Press Release (7)

Recent posts

  • Gibran in limbo as House mulls response
    Gibran in limbo as House mulls response
  • Apakah Hak Menyatakan Pendapat Upaya Lain Memakzulkan Gibran?
    Apakah Hak Menyatakan Pendapat Upaya Lain Memakzulkan Gibran?
  • Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?
    Followers Raffi Ahmad Berkurang 550 Ribu, Efek Acara di Bundaran HI?

Tags

Alinea Antara Berita Satu Bisniscom Bloomberg CNA CNBC Indonesia CNN CNNIndonesia Detikcom Garuda TV IDN Times Inilahcom Investor ID Jakarta Globe Jawa Pos Katadata Kompas Kumparan Liputan 6 Media Indonesia Merdeka Metro TV Metro TV News nusantaratv okezone Rakyat Merdeka Republika SINDONews Sin Po Suara Tempo The Jakarta Post The Star The Strait Times Tirto TribunNews tvonenews TVRI News Viva VOI Warta Kota

Lanjut membaca

Ramai-ramai Parpol Dukung Prabowo Dua Periode, Akankah Bertahan hingga 2029?
Kutipan, Media

Ramai-ramai Parpol Dukung Prabowo Dua Periode, Akankah Bertahan hingga 2029?

October 13, 2026 admin

Sejumlah partai politik mulai menyatakan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Partai-partai tersebut meliputi Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Demokrat. Namun, tidak semua partai yang mendukung pemerintahan Prabowo telah menentukan sikap untuk Pilpres 2029. Partai […]

Apa Arti Putusan MK Terkait Gugatan Ijazah SMA Gibran?
Kutipan, Media

Apa Arti Putusan MK Terkait Gugatan Ijazah SMA Gibran?

October 8, 2026 admin

Mahkamah Konstitusi menyatakan, permohonan sengketa pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming tidak dapat diterima. Alasannya, permohonan yang diajukan telah melebihi tenggat. Para pemohon juga tidak memiliki kedudukan hukum. MK juga menegaskan bahwa persoalan keabsahan syarat ijazah merupakan ranah lembaga lain. ”Menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima,” kata Ketua MK Suhartoyo saat membacakan putusan perkara Perselisihan […]

Menakar Implikasi Putusan MK terhadap Jalan Politik Wapres Gibran
Kutipan, Media

Menakar Implikasi Putusan MK terhadap Jalan Politik Wapres Gibran

October 8, 2026 admin

Mahkamah Konstitusi seakan terus membayangi jejak karier politik Gibran Rakabuming. Berkat putusan dari Mahkamah itu, ia pernah dibukakan pintu selebar-lebarnya agar bisa mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden. Kini, palu Mahkamah yang sama berisiko menghambat lajunya menuju kontestasi politik 2029. Wacana pencalonan Gibran sebagai calon wakil presiden bergulir ketika ia masih menjabat Wali Kota Surakarta. Kala […]

logotrias

Lembaga penyelenggara jasa riset/survei, media monitoring, analisa strategi politik, pemenangan politik, dan pendampingan politik pasca memenangkan pemilihan.

About Us
  • About Us
  • What We Do
  • Our Work
  • Publications
  • News & Insight
  • Contact Us
Social
  • WhatsApp
  • X/Twitter
  • Instagram
  • Facebook
  • Youtube
  • Tiktok

© 2026 Trias Politika Strategis. All rights reserved.

  • Web Development by Metahuis