Golkar Main Padel, Mampukah Gaet Anak Muda?

Partai Golkar mulai bermanuver untuk menggaet kader anyar sekaligus pemilih dari kalangan usia muda. Mesin politik partai yang biasanya digerakkan secara konvensional, kini partai warisan orde baru itu beradaptasi dengan tuntutan zaman.
Halaman kantor DPP Golkar yang bermarkas di Slipi, Jakarta Barat disulap menjadi lapangan padel. Pada Minggu (9/11/2025), lapangan bernuansa serba kuning yang diberi nama Yellow Racquet Club ini diresmikan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia. Sejumlah tokoh partai beringin macam Aburizal Bakrie sampai Setya Novanto ikut menjajal bermain olahraga yang tengah gandrung ini.
Ide membuat lapangan padel di markas Golkar disebut Bahlil tercetus dari mantan Menpora Dito Ariotedjo, yang di partai berstatus Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif. Meski tidak terang-terangan pendirian lapangan padel bermuara kepentingan elektoral, Bahlil tidak menafikan sasaran pengguna lapangan adalah kalangan muda.
“Menurut saya lapangan ini adalah bagian improvisasi, ide kecerdasan dalam mendekatkan anak-anak muda dengan partai Golkar. Saya sangat apresiasi program, niat baik dari Pak Dito dan teman-teman,” kata Bahlil, dikutip Tirto pada Selasa (11/11/2025) dari laman resmi Instagram DPP Golkar.
“Memang sekarang Golkar tidak hanya cukup dengan pola konsolidasi dan pidato-pidato, maka pendekatan yang harus dilakukan adalah pendekatan di luar kelaziman. Kalau (lapangan) dibuka untuk umum tidak apa-apa, diskon saja tidak apa. Bila perlu semakin (orang luar) masuk kesini, kasih diskon (dan) jadi anggota Golkar,” imbuhnya.
Kepada Tirto, Dito Ariotedjo menuturkan keberadaan Yellow Racquet Club sebagai wadah olahraga raket yang menjadi pilot project DPP Golkar. Niat awal dan tujuannya untuk menyatukan kader dalam kegiatan olahraga. Ke depan, akses publik atau selain kader bakal dibuka seluas mungkin, apalagi mereka yang memiliki potensi padel.
“Jadi elektoral saya rasa hanya bonus sampingan semata. Tapi bagaimana olahraga bisa menyatukan semua. Itu (kepentingan politik elektoral) akan mengikuti dengan sendirinya. Yang pasti kebijakan Golkar itu bertumpu dengan apa yang rakyat perlukan. Inovasi dengan fasilitas olahraga hanya bagian simbol penguat bahwa golkar hadir di lini apapun,” ucap Dito, pada Selasa (11/11/2025).

Politisi Golkar lainnya, Dave Laksono bilang bahwa peluncuran lapangan padel oleh partainya tidak bisa dilepaskan dari semangat beradaptasi dengan zaman, termasuk dalam membangun ruang interaksi yang sehat, inklusif, dan relevan bagi generasi muda. Dia memahami olahraga satu ini menyasar kelompok ekonomi tertentu.
“Padel, sebagai olahraga yang tengah naik daun di kalangan urban dan menengah, kami pandang sebagai medium yang efektif untuk membangun jejaring, mempererat solidaritas, sekaligus memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan yang menjadi fondasi perjuangan Partai Golkar,” ujar dia kepada Tirto, Selasa (11/11/2025).
Dia merespons pernyataan Bahlil yang seolah mengharuskan pihak luar menjadi kader jika ingin bermain padel di lapangan Golkar—itu sebagai ajakan atau motivasi semata. Dave bilang ini bukan bentuk eksklusivitas, melainkan dorongan agar anak-anak muda yang aktif, progresif, dan peduli pada masa depan bangsa turut terlibat dalam proses politik secara sehat dan konstruktif.
Dave juga menekankan, Golkar melakoni komunikasi politik di balik pendirian lapangan padel. Jadi, kata dia, ini bukan soal strategi pemasaran, melainkan langkah untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Siapapun yang punya semangat untuk berkontribusi, tanpa melihat latar belakang ekonomi, dapat turut serta dalam upaya membangun Indonesia yang lebih maju dan adil.
“Kami menyadari bahwa partai politik harus mampu menjangkau ruang-ruang baru, termasuk ruang olahraga dan komunitas, untuk menyampaikan gagasan dan membuka dialog. Namun yang lebih penting, kami ingin menunjukkan bahwa politik tidak harus kaku dan elitis. Politik bisa hadir dalam suasana yang membumi, menyenangkan, dan membangun semangat kolektif,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR RI itu.
Sasar Ceruk Elektoral Anak Muda Mapan
Pada Pemilu 2024, Partai Golkar menembus posisi tiga besar, persisnya berada di urutan kedua di bawah PDI-P, dengan torehan 23,27 juta suara atau 15,29 persen. Suara partai Golkar naik 6,05 juta suara dibandingkan Pemilu 2019.
Suara dari kalangan muda berperan dalam capaian partai beringin, seiring data KPU yang mencatat total Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 204,8 juta pemilih, yang lebih dari separuhnya adalah generasi muda.
Kembali ke manuver Golkar lewat padel—yang perlu dicermati adalah olahraga ini termasuk bukan olahraga ramah kantong. Sehingga sasarannya mengarah ke kelompok menengah-atas.
Pakar komunikasi politik Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, mengatakan manuver Golkar ini bisa dimaknai bahwa Bahlil memasarkan partainya ke anak muda kelas menengah perkotaan yang selama ini dikenal apolitis dan muak dengan politik. Namun, gebrakan Golkar ini bisa tidak efektif jika implementasinya tidak terarah dan taktis.
“Saya lihat ini hanya akan jadi gimik, bukan sesuatu bentuk marketing yang efektif. Kecuali Golkar bakal bikin banyak lapangan di banyak lokasi dan memasarkan politik Golkar secara masif melalui olahraga padel. Tapi itu pun menurut saya sifatnya pasif. Maksudnya ketika sudah dikasih kartu anggota, nantinya (kader baru) akan tidak berbuat apa-apa,” kata Kunto kepada Tirto, Selasa (11/11/2025).
Menurutnya, harus ada pengalaman berarti bagi calon kader yang diprospek melalui olahraga padel. Anak muda dengan kondisi ekonomi mapan sepatutnya diberikan pengalaman kepartaian sejak awal, jika ingin mencetak kader militan kelak.

“Tapi dengan posisi partai politik yang sama-sama pragmatis semisal tidak ada diferensiasi dan posisi satu partai ke partai lain, lalu jualannya mau apa dan bagaimana. Kalau cuma main padel di lapangan Golkar aja, apa experiencenya yang diharapkan, selain olahraga,” ungkap Kunto.
“Saya agak skeptis dengan marketing politik seperti ini kecuali memang di-follow up dengan pendekatan lain, misal soal ada momen yang mengajarkan aktivisme politik Golkar. Itu akan lebih jauh efektif,” imbuhnya.
Terlepas itu, Kunto menekankan Golkar semakin sadar bahwa pemilihnya semakin tersegmentasi menjurus ke generasi Z dan milenial. Sebab, di satu sisi banyak pemilih loyal Golkar sisa orde baru yang kini makin tua. Sementara, di sisi lain tidak ada regenerasi di keluarganya. Golkar bak sedang menanam investasi yang bisa dipanen dalam tahun politik.
“Ditambah adanya penolakan dari anak muda akan partai politik yang politik dianggap kotor dan menjijikkan. Ini yang jadi pemantik Golkar dan partai lain–untuk memastikan pemilihnya tetap segar dan bertahan lama. Golkar ini punya resource secara SDM dan kapital atau uang untuk investasi politik seperti ini,” katanya.
Direktur Eksekutif Trias Politika Agung Baskoro, Agung Baskoro, juga mewanti-wanti apa yang dilakukan Golkar lewat manuver padel-nya sarat kepentingan politik elektoral. Partai disebut peka soal konteks sosiologis-demografi masyarakat Indonesia yang kini didominasi Generasi Z dan Millenial.
“Ini respons atas gebrakan partai politik lain yang menggunakan cara serupa. Jadi memanfaatkan olahraga sebagai alat untuk mendekat ke pemilih muda,” ujar Agung kepada Tirto, Selasa (11/11/2025).
Agung juga menyoroti pemilihan olahraga padel untuk menyaring calon kader yang memiliki kemampuan finansial berlebih. Ke depan, kader anyar yang terjaring dari gimik olahraga ini bisa menjadi salah satu tumpuan keuangan partai.
Sama seperti Kunto, gebrakan Golkar dinilai Agung bakal menghadapi ‘batu besar’. Ini terkait relasi emosional atau psikologis antara masyarakat dan partai yang selama ini cenderung berjarak. Semua tak terlepas dari sensasi kinerja tak sesuai ekspektasi publik yang dipertontonkan politisi.
“Perlu dilihat juga party id rendah karena partai banyak masalah. Generasi Z atau milenial akan cenderung tidak memilih cepat masuk partai politik. Apalagi kalau tidak ada patron atau tokoh yang menjadi daya tarik,” katanya.
Agung menekankan setiap gimik politik mesti berpaku pada sosok. Jika yang hanya ditonjolkan partai, maka manuver lewat olahraga padel ini bakal tak punya magnitude tinggi.
“Beda kalau ada sosok Golkar yang membersamai upaya marketing politik, itu akan lebih potensial menggaet massa. Harus ada tokoh Golkar yang disandingkan dengan tokoh besar seperti Presiden Prabowo untuk dapat efek ekor jas,” kata dia.
Apabila mau menonjolkan selain pimpinan partai, Agung mengingatkan Golkar adalah partai yang penuh sosok berpengaruh. Torehan suara Golkar pada pemilu teranyar merupakan hasil mesin partai yang bekerja di lingkup daerah, bahkan di level ranting.
“Infrastruktur politik Golkar di Pileg memang sudah dibentuk sejak lama dari kekuasaan orde baru. Golkar mestinya tidak kekurangan kader dan figur, meski pemilu terakhir tidak ada sosok yang ikut pilpres tapi masuk partai teratas. Mudah bagi Golkar untuk gaet simpati Generasi Z dan Millenial, bisa tonjolkan sosok muda yang ada di parlemen atau kabinet,” kata dia.
“Bisa tampilkan Dyah Roro (Wamendag) sampai di level DPR ada Puteri Komarudin hingga Dave Laksono,” pungkasnya.
Terbit di Tirto


