Projo merapat ke Prabowo, memudarnya pengaruh Jokowi atau ada niat lain?

Ormas Projo yang identik sebagai kelompok relawan pendukung mantan Presiden Joko Widodo menyatakan akan mengawal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bahkan Budi Arie, ketua umum Projo, menyiratkan akan bergabung ke Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo.
Pernyataan ini disampaikan Budi ketika dia terpilih kembali menjadi Ketum Projo periode 2025-2030 pada Kongres III Projo di Jakarta, Minggu (2/11).
“Kita sama-sama menggerakkan, mendukung, memperkuat agar program-program kerakyatan Bapak Presiden Prabowo bisa betul-betul terasa manfaatnya bagi rakyat,” kata Budi seperti dikutip dari Antara.
Pengamat mengatakan, merapatnya Budi ke Prabowo, ditambah perubahan lainnya di Projo adalah bukti bahwa pengaruh Jokowi sudah semakin menipis dan ditinggalkan para pendukungnya.
Sementara pendapat lain mengatakan bahwa justru langkah Projo saat ini adalah strategi politik untuk mempertahankan pengaruh Jokowi.
PROJO BUKAN PRO-JOKOWI
Sejak 2014, Projo merupakan salah satu kelompok relawan terbesar pendukung Jokowi yang mengantarkannya menjadi presiden selama dua periode. Meski tidak diketahui pasti berapa jumlah relawan Projo, namun mereka memiliki cabang hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Kemenangan Jokowi membuat Budi Arie sebagai penggawa Projo diangkat menjadi Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada 2019-2023, Menteri Komunikasi dan Informatika pada 2023 dan 2004, dan di bawah pemerintahan Prabowo menjadi Menteri Koperasi sebelum diganti pada September lalu.
Dalam Kongres Projo yang dihadiri ribuan relawan, Budi mengatakan bahwa organisasinya akan bertransformasi, salah satunya dimulai dari mengubah logo yang awalnya menampilkan gambar Jokowi.
“Logo Projo akan kita ubah supaya tidak terkesan kultus individu. Iya, kemungkinan (bukan logo Jokowi),” ujar Budi kepada wartawan usai pembukaan Kongres III Projo, Sabtu lalu, diberitakan Detik.

Kendati berganti logo, namun dia menegaskan bahwa nama organisasi mereka tidak akan berubah, tetap Projo.
Meski banyak yang menganggap Projo adalah singkatan dari Pro-Jokowi, namun Budi membantahnya. Budi menjelaskan, Projo bukanlah singkatan, melainkan kata dalam bahasa sanskerta dan Jawa Kawi yang berarti ‘negeri’ atau ‘rakyat’.
“Jadi, kaum Projo adalah ‘kaum yang mencintai negara dan rakyatnya’,” kata dia.
Tidak hanya itu, Budi juga mengisyaratkan dirinya akan masuk ke Partai Gerindra sebagai bentuk dukungan terhadap Prabowo.
“Kami berharap bisa memperkuat agenda politik Pak Prabowo. Supaya kepemimpinan Prabowo bisa lebih kuat, solid. Karena itu kami akan memperkuat seluruh agenda politik presiden dengan memperkuat partai politik pimpinan presiden,” kata Budi Arie.
Jokowi diundang untuk membuka kongres tersebut tapi tidak hadir dengan alasan kesehatan yang mengharuskannya beristirahat.
MEMUDARNYA JOKOWI EFFECT?
Projo yang menyatakan dukungan terhadap Prabowo menjadi bukti nyata bahwa Jokowi sudah semakin ditinggalkan para pendukungnya, ujar Agung Baskoro, pengamat politik dari Trias Politika Strategis kepada CNA Indonesia.
“Ditinggalkannya Jokowi sebenarnya nyata, logo (Projo) berubah, partai (yang dipilih Budi) bukan PSI, tetapi Gerindra, mengatakan bahwa Projo bukan pro-Jokowi,” kata Agung.
PSI adalah partai yang dipimpin oleh putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, yang disebut-sebut memiliki sosok “J” sebagai pembinanya.
“Semakin ke sini, Jokowi effect itu semakin pudar,” kata Agung.
Selain itu, kata Agung, transformasi Projo juga merupakan bentuk langkah politik dan pragmatis Budi. Menurut Agung, setelah Jokowi tidak lagi menjabat, karier Budi semakin turun, terbukti dari digantinya dia dari jabatan menteri.
Selain itu, Budi juga masih tersandung kasus dugaan pengamanan situs web judi online ketika dia menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika di bawah pemerintahan Jokowi.
“Dukungan politik diperlukan oleh Budi Arie untuk memastikan perlindungan hukum dan keamanan politik, dengan harapan hal tersebut dapat berbuah insentif politik di masa depan,” kata Agung.
Namun pandangan berbeda disampaikan Made Supriatma, pakar politik sekaligus peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, yang mengatakan bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh, terutama bagi masyarakat di lapisan bawah yang pernah menikmati berbagai program bantuan sosial di pemerintahannya.
“Prabowo masih punya jaringan pendukung yang kuat, Prabowo tidak akan berani main-main dengan Jokowi,” kata Made.
“Mengapa Budi Arie ke Gerindra? Saya melihat ini adalah strategi Jokowi untuk masuk ke dalam partai itu untuk memberikan pengaruh.”
Sebelum Kongres Projo, Budi Arie sowan ke kediaman Jokowi bulan lalu dan mendapatkan arahan untuk mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Arahannya adalah bahwa kita mendukung pemerintahan ini, karena pemerintahan Pak Prabowo-Gibran ini adalah pemerintahan yang mendapat mandat rakyat,” kata Budi usai pertemuan dengan Jokowi, dikutip dari Detik.

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengaku belum mendengar kabar Budi Arie akan masuk ke partainya. Namun dia menyatakan Gerindra siap menerima gelombang besar relawan untuk masuk.
Made menduga, Gerindra akan membiarkan Budi Arie masuk ke dalam partai demi merangkul Jokowi dengan para pendukungnya yang besar.
“Jika tidak dirangkul, Jokowi akan menjadi faktor instabilitas selain PDIP,” kata Made, merujuk pada PDIP yang merupakan satu-satunya partai besar yang tidak masuk dalam koalisi pemerintahan Prabowo.
Hal serupa disampaikan analis politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, yang mengatakan bahwa masuknya Budi Arie di Gerindra adalah sebuah “aliansi strategis”.
“Paling tidak Jokowi akan punya ‘orang’ di dalam Gerindra,” kata Kunto.
Menurut Kunto, rekomendasi dari Jokowi akan membuat Budi mudah diterima di Gerindra. “Menurut saya kalau Budi Arie cuma masuk begitu saja tanpa ada rekomendasi dari Jokowi, agak susah juga untuk jadi sesuatu di Gerindra,” lanjut dia.
Kekuatan relawan Projo yang dipimpin Budi Arie ini akan menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan elektabilitas partai menjelang pemilihan 2029 mendatang.
“Projo dapat membuktikan loyalitasnya melalui kerja politik yang nyata, bukan sekarang, tetapi menjelang masa kampanye pemilihan 2029 nanti,” kata Agung dari Trias Politika.
Terbit di Channel News Asia


