Parpol berlomba dukung Prabowo di Pilpres 2029, bagaimana nasib Gibran?

Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai partai politik telah menyatakan dukungannya untuk Prabowo Subianto maju kembali sebagai calon presiden dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2029. Namun, nama Gibran Rakabuming Raka tidak muncul untuk sekali lagi mendampingi Prabowo sebagai calon wakil presiden.
Bahkan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) terang-terangan mengatakan bahwa dia mendukung ketua umum partainya, Zulkifli Hasan ( (Zulhas), menjadi cawapres bersanding dengan Prabowo pada Pilpres mendatang.
Para pengamat memiliki beberapa pandangan mengenai hal ini, di antaranya kinerja Gibran dianggap tidak memuaskan di mata para politisi hingga ancaman retaknya keharmonisan koalisi pendukung Prabowo jika putra sulung mantan Presiden Joko Widodo itu kembali diusung.
DUKUNGAN PARTAI UNTUK PRABOWO
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan telah menegaskan partainya bulat mendukung Prabowo menjabat dua periode agar seluruh program pemerintahan dapat terealisasi optimal.
Pada kesempatan lain, Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno bahkan mengusulkan Zulhas mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2029.
“Kalau ditanyakan hari ini, saya dukung Pak Zulhas mendampingi Pak Prabowo di tahun 2029. Bagi saya, itu juga akan menghidupkan mesin partai. Kader-kader juga akan tergerak untuk mendukung ketua umumnya,” ujarnya seperti dikutip dari CNN Indonesia.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) melalui ketua umumnya, Muhaimin Iskandar, juga menegaskan partainya siap kembali mendukung Prabowo dalam Pilpres tiga tahun lagi.
“Kita intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periode lah,” kata Muhaimin pada 4 Februari lalu.
Namun ketika ditanya siapa cawapresnya nanti, Muhaimin, tanpa menyebut nama Gibran, mengatakan bahwa hal itu “belum dibahas”.
Partai Golkar turut menyatakan dukungannya terhadap Prabowo. Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengatakan Prabowo adalah sosok yang “terbaik”.
Namun Golkar juga tidak secara tegas mengatakan Gibran akan turut diusung pada Pilpres nanti. Ditanya mengenai hal ini, Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji mengatakan partainya tengah fokus mendukung pemerintahan Prabowo.

Pernyataan partai politik ini disampaikan setelah sebelumnya Jokowi secara terbuka menyampaikan dukungan Prabowo-Gibran maju Pilpres 2029 untuk memimpin dua periode.
“Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja,” kata Jokowi saat ditemui media di Solo pada 30 Januari lalu.
Ditanya tanggapannya atas dukungan Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno terhadap duet Prabowo–Zulkifli Hasan di Pilpres 2029, Gibran tak memberi jawaban tegas. Ia memilih menekankan komitmennya untuk fokus menjalankan program dan visi presiden.
“Sebagai pembantu Presiden, saya memiliki tanggung jawab untuk mengawal serta memastikan pelaksanaan program dan visi Bapak Presiden berjalan dengan baik,” kata Gibran dalam keterangan tertulis pada 6 Februari lalu, dikutip dari Antara.
KINERJA GIBRAN “BELUM LUAR BIASA”
Deklarasi, meski belum secara resmi oleh partai, untuk mengusung kembali Prabowo pada Pilpres mendatang adalah bentuk solidnya koalisi pendukung pemerintahan, kata Kunto Adi Wibowo, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, kepada CNA.
Partai-partai, lanjut Kunto, berlomba-lomba mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo untuk mendapatkan efek ekor jas atau coattail effect, efek limpahan dari popularitas tokoh atau figur yang mendongkrak insentif elektoral bagi kandidat lain.
“Istilahnya mana yang lebih dulu ‘nge-tag-in’, harapannya mendapatkan coattail effect yang lebih besar dengan mendekat duluan ke Prabowo,” kata Kunto.
PKB, PAN, dan Golkar termasuk dalam Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 dan menguasai mayoritas kursi di DPR. Dukungan tersebut menjadikan koalisi ini sebagai kekuatan dominan di parlemen sekaligus basis politik utama pemerintahan Prabowo–Gibran di tingkat nasional.
Dominasi itu, menurut Kunto, turut memperkuat efek ekor jas Prabowo menjelang 2029. Selain ingin mendapatkan limpahan elektoral, deklarasi dukungan partai juga menunjukkan besarnya kekuatan politik Prabowo yang dinilai akan sulit disaingi kandidat lain.
“Mereka sepertinya akan takut bertarung selama Prabowo mau maju lagi. Karena kekuatan incumbent itu luar biasa. Prabowo tidak hanya punya modal politik, tapi juga modal sosial, modal budaya dan modal ekonomi,” kata Kunto.
Soal nama Gibran yang tidak muncul dalam klaim dukungan parpol untuk Pilpres 2029, pengamat menduga karena kinerjanya dianggap “belum luar biasa”.
“Karena bisa jadi menurut para ketum parpol kinerja Gibran sebagai cawapres dalam satu setengah tahun ini masih belum luar biasa,” kata Agung Baskoro, pengamat politik dari Trias Politika Strategis.
Agung juga menilai para elite partai koalisi Prabowo memiliki ambisi untuk “naik kelas” dengan maju sebagai calon wakil presiden di Pilpres mendatang.
“Jadi masing-masing punya kepentingan politik personal yang itu mesti dijawab dan dimediasi oleh Presiden Prabowo sendiri,” kata Agung.
Dalam situasi adanya kepentingan tersebut, menurut dia, dorongan untuk kembali memajukan Gibran sebagai pendamping Prabowo pada Pilpres 2029 berpotensi memicu friksi di internal koalisi.
“Karena jika Gibran kembali dimajukan sebagai opsi, hal itu berpotensi membuka ruang atau celah baru yang dapat mengganggu soliditas internal Koalisi Indonesia Maju Plus. Situasi tersebut bisa membuat fokus koalisi terpecah ke agenda kompetisi 2029,” kata Agung.
Soal kemungkinan Gibran menjadi calon presiden penantang Prabowo di Pilpres 2029, para pengamat meragukannya. Kunto mengatakan hal ini sulit terbayangkan karena Gibran tidak memiliki partai sebagai kendaraan politik.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin adiknya, Kaesang Pangarep, dan bertumpu pada figur Jokowi pun dinilai belum bisa diandalkan untuk menopang langkah tersebut.
“PSI juga belum mendapat kursi (DPR) kan sekarang,” kata Kunto.
Agung mengatakan, jika tidak menjadi cawapres atau pun pesaing pada Pilpres 2029, Gibran bisa menjadi “kawan potensial” Prabowo dengan menyatakan dukungannya.
“(Gibran) bisa menjadi kawan potensial yang sebatas mendukung, tentu dengan kompensasi-kompensasi politik yang jelas,” kata Agung.
Namun kedua pengamat sepakat bahwa masih terlalu dini untuk menentukan siapa pendamping Prabowo pada Pilpres, mengingat berbagai kemungkinan masih bisa terjadi.
“Saya tebak pada 2027 awal baru kelihatan dinamika politik yang lebih jelas,” kata Kunto.
Terbit di Channel News Asia


