Kaesang Siap Tempur di Kandang Banteng, Memang Bisa Salip Puan?

Rencana Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) Dapil Jawa Tengah V pada Pemilu 2029, bakal menempatkannya berhadapan langsung dengan Puan Maharani, jika Ketua DPP PDIP sekaligus Ketua DPR RI itu maju lagi pada periode mendatang.
Dapil ini mencakup Kota Surakarta (Solo), Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo, yang masuk kategori dapil neraka, istilah untuk dapil dengan persaingan sangat ketat karena diisi banyak tokoh populer maupun politikus papan atas.
“Pesan yang saya sampaikan tadi bukan pesan saya sebagai ketua umum. Tapi pesan saya sebagai bakal calon legislatif RI Dapil V Jawa Tengah,” kata Kaesang dalam Rapat Koordinasi Daerah DPD PSI di Kota Solo, Sabtu, (25/7/2025).
Jalan Kaesang pada 2029 tentu tidak mudah. Data hasil pemilu dua siklus terakhir menunjukkan betapa dalamnya akar PDIP di dapil ini.
Pada Pileg 2024, dari total 2.556.296 pemilih terdaftar yang menggunakan hak suara di dapil tersebut, PDIP meraup 774.282 suara partai—lebih dari dua kali lipat perolehan Golkar di posisi kedua dengan 335.804 suara, disusul Gerindra 302.492 suara, PKS 197.614 suara, dan PSI di urutan kelima dengan hanya 134.249 suara.
Secara individu, kesenjangan itu tampak lebih tajam. Pada Pileg 2019, Puan meraih 404.034 suara di Dapil Jateng V—perolehan suara perorangan tertinggi se-Indonesia untuk anggota DPR terpilih periode itu. Pada 2024, angka itu turun menjadi 297.366—penurunan sekitar 26 persen dalam lima tahun, meski tetap menempatkannya sebagai caleg dengan suara terbanyak ketujuh secara nasional.
Di bawah Puan pada 2024, Adik Sasongko dari Gerindra meraih 142.405 suara dan Singgih Januratmoko dari Golkar 125.067 suara. Sementara itu, caleg PSI dengan suara terbanyak di dapil tersebut adalah Cynthia Riza, yang mengumpulkan 60.003 suara—kurang dari seperlima perolehan Puan, bahkan kalah dari caleg Gerindra maupun Golkar di peringkat kedua dan ketiga.
Penurunan suara personal Puan memang nyata, tapi terjadi bersamaan dengan tetap dominannya PDIP sebagai mesin partai.
Jawa Tengah adalah kontributor suara terbesar PDIP secara nasional. Pada Pileg 2019, provinsi ini menyumbang 5,76 juta suara atau 29,71 persen dari total perolehan nasional partai berlambang banteng itu—jauh di atas Jawa Timur di urutan kedua dengan total 19,57 persen. PDIP bahkan menguasai 28 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah pada pemilu yang sama.
Bisakah Jokowi Angkat Suara Kaesang?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah nama besar Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) mampu mengangkat elektabilitas PSI di dapil yang kental disebut sebagai ‘kandang banteng’ itu.
Jawabannya perlu ditelusuri dari data longitudinal sejak Kaesang bergabung dengan PSI pada September 2023. Sebelum Kaesang resmi menjabat ketua umum, elektabilitas PSI di angka 1,1 persen pada awal Oktober 2023. Begitu ia mengambil alih kepemimpinan partai di bulan yang sama, survei Polling Institute mencatat lonjakan tiga kali lipat menjadi 3,5 persen pada periode tersebut.
Lonjakan itu tak bertahan mulus hingga hari pemungutan suara. Ketika Pileg 2024 tiba, PSI akhirnya mengumpulkan 4.260.169 suara secara nasional atau 2,81 persen—naik dari 1,89 persen pada 2019, tapi tetap gagal menembus ambang batas parlemen empat persen.
Bahkan, ketika Jokowi sudah sepenuhnya lepas dari jabatan presiden dan mencurahkan energi politiknya untuk membesarkan PSI, tiga survei nasional dari tiga lembaga berbeda sepanjang Maret–Juni 2026 justru mencatat elektabilitas partai ini berkutat di kisaran 1,2 hingga 1,9 persen—setara atau lebih rendah dari level sebelum Kaesang menjabat ketua umum pada 2023.
Survei Poltracking Indonesia (2–8 Maret 2026) mencatat elektabilitas PSI 1,2 persen, jauh di bawah PDIP yang berada di 15,4 persen dan Gerindra di puncak dengan 26,1 persen. Survei Nusantara Riset Indonesia pada awal Mei 2026 mencatat pola serupa: PSI 2,00 persen, PDIP 15,17 persen, sementara Gerindra 27,25 persen.
Survei Lembaga Pemilih Indonesia yang digelar 10–17 Juni 2026 terhadap 1.922 responden di 32 provinsi mengonfirmasi pola yang sama: PSI mencatat 1,9 persen, di bawah ambang batas parlemen dan bahkan kalah dari PPP yang berada di angka 2,8 persen, sementara PDIP tercatat 19 persen.
Kendati begitu, survei LPI juga mencatat citra personal Kaesang tetap kuat secara terpisah dari elektabilitas partainya: 72 persen responden menilai dia mewakili generasi muda, dan 65 persen menilai kehadirannya membuat PSI lebih dikenal publik. Tapi popularitas personal itu belum terkonversi penuh menjadi suara riil.
Pola yang terlihat sejak lonjakan singkat pada Oktober 2023 dan belum berubah hingga pertengahan 2026, atau usai Jokowi purnatugas dan mencurahkan penuh dukungannya untuk PSI.
Kaesang sendiri membatasi wilayah kerja politiknya hanya di Kota Solo, sementara Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo—tiga dari empat wilayah cakupan dapil Jateng V— dialokasikan ke kader PSI lain.
“InsyaAllah saya akan membersamai seluruh kader karena teritori yang diberikan kepada saya hanya di Kota Solo. Boyolali saya tidak boleh disentuh karena ada bagian yang lain,” ujar Kaesang.
Secara struktur suara, ini berarti Kaesang bertumpu pada satu dari empat basis wilayah di dapil Jateng V, sementara keberhasilan PDIP dalam dua pemilu berturut-turut terbentuk dari akumulasi suara di seluruh empat wilayah sekaligus.

PDIP Yakin Jawa Tengah Masih Kandang Banteng
Dari sisi PDIP, respons yang muncul justru datar, seolah menganggap pertarungan ini tidak mengancam peta suara yang sudah terbentuk di wilayah tersebut.
“Saya masih yakin kandang banteng,” kata Ketua DPP PDIP, Ganjar Pranowo, di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).
Jika data dijadikan patokan, tantangan terbesar Kaesang bukan hanya mengalahkan Puan secara personal, melainkan menembus dua lapis pertahanan sekaligus. Lapis pertama adalah struktur kemenangan PDIP yang terbentuk dari empat wilayah dapil selama dua dekade, dengan selisih suara partai hampir enam kali lipat atas PSI pada 2024.
Lapis kedua adalah batas elektabilitas nasional PSI yang belum pernah bergerak jauh dari kisaran 1–3 persen sejak partai ini berdiri—termasuk pada periode ketika keterlibatan Jokowi terhadap partai seharusnya berada di titik paling intens, karena ia tak lagi terikat jabatan presiden.
Penurunan suara Puan dari 404 ribu ke 297 ribu suara memang menunjukkan celah yang mengecil, tapi celah itu masih lima kali lebih lebar dari perolehan caleg PSI terbaik di dapil yang sama pada pemilu terakhir.
Di tengah gambaran data yang berat sebelah itu, Direktur Eksekutif lembaga survei Indonesia Political Opinion (IPO,) Dedi Kurnia Syah, menawarkan pembacaan yang lebih berlapis ketika diwawancarai Tirto, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, Kaesang berpotensi meraup suara yang layak diperhitungkan di Dapil Jateng V mengingat pengaruh Jokowi di wilayah itu masih ada.
Namun, apakah itu cukup untuk menggeser dominasi Puan adalah soal lain, karena pileg menganut sistem proporsional dengan porsi kursi yang relatif banyak per dapil—sehingga sangat mungkin baik Kaesang maupun Puan sama-sama lolos ke Senayan tanpa saling menjatuhkan.
Dedi juga menggarisbawahi bahwa posisi Jokowi kali ini berbeda dari Pileg 2024. Saat itu Jokowi masih presiden aktif dan tak leluasa berkampanye terbuka untuk PSI. Pada 2029, dengan Jokowi turun langsung ke masyarakat mempromosikan partai anaknya, daya ungkitnya—terutama di Jawa Tengah—dinilai masih cukup mumpuni untuk mendongkrak perolehan suara PSI dibanding capaian 2024.
“Bagaimanapun, Jokowi turun sendiri ke masyarakat untuk promosikan PSI miliki pengaruh berbeda jika dibandingkan dengan Pileg 2024 lalu, PSI bisa saja raih peningkatan suara, daya ungkit Jokowi utamanya di Jateng masih cukup mumpuni,” ujar Dedi.
Ajang Tarung Keluarga Jokowi vs Keluarga Megawati
Faktor lain yang disorot Dedi adalah dinamika internal PDIP sendiri. Ia menilai partai itu akan mengalami perubahan lanskap elektoral, dan renggangnya hubungan antara Megawati Soekarnoputri dengan Jokowi berpotensi memengaruhi suara yang selama ini mengalir ke PDIP.
Dedi menambahkan, ambisi Kaesang maju head to head di dapil Puan tidak bisa dilepaskan dari konteks personal yang melampaui kalkulasi elektoral semata. Perseteruan antara Megawati dan PDIP di satu sisi dengan Jokowi di sisi lain, menurutnya, sudah bergeser dari sekadar rivalitas politik menjadi pertarungan yang bagi Kaesang terasa sebagai urusan keluarga.
“Kaesang jelas berambisi untuk melawan PDIP secara langsung, perseteruan Megawati dan PDIP dengan Jokowi sudah bukan lagi rapah politik murni, bagi Kaesang jelas itu pertarungan keluarga,” tegas Dedi.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai pertarungan di Dapil Jateng V pada dasarnya menguji dua kekuatan yang berbeda: magnet figur dan magnet partai.
Ia menyoroti rendahnya keterikatan pemilih Indonesia terhadap partai politik saat ini, kondisi yang membuat kekuatan figur personal berpotensi lebih menentukan ketimbang identitas kepartaian semata.
“Ini akan menguji bagaimana pertarungan magnet figur versus magnet partai,” kata Agung kepada Tirto, Selasa (28/7).
Menurut Agung, langkah PSI mengajukan ketua umumnya sendiri sebagai caleg menunjukkan keseriusan partai itu untuk lolos ke parlemen, sekaligus menjadi sinyal yang harus diwaspadai PDIP yang selama ini menguasai Solo dan Jawa Tengah secara keseluruhan.
Ia mengingatkan bahwa keluarga Solo—merujuk Jokowi dan Wapres Gibran Rakabuming Raka, yang merintis basis politiknya dari kursi Wali Kota Solo—memiliki basis klan yang kuat di wilayah tersebut.
“Ini bisa menjadi alarm politik bagi PDI-Perjuangan untuk hati-hati,” ujar Agung.
Ia menambahkan, pertarungan ini juga akan menjadi babak lanjutan relasi antara “keluarga Solo” dan “keluarga Teuku Umar”—rumah kediaman Megawati yang identik dengan pusat kekuasaan PDIP—setelah sebelumnya keluarga Solo tercatat memenangi kontestasi di Solo maupun Jawa Tengah, baik pada Pilkada maupun Pilpres.
Pandangan senada, datang dari pengamat politik, Adi Prayitno. Ia menilai pencalonan Kaesang pertama-tama adalah strategi PSI untuk lolos parlemen, dengan target minimal satu kursi di Dapil Jateng V—dapil yang dipilih karena jaringan politik Jokowi disinyalir masih kuat, khususnya di Solo.
Karena dapil ini juga menjadi basis PDIP dengan kehadiran Puan, wajar jika publik membacanya sebagai konfrontasi terbuka dengan partai berlambang banteng tersebut. Namun, Adi mengingatkan agar pembingkaian itu tak dibesar-besarkan menjadi pertarungan simbolik antara Megawati dan Jokowi.
“Terlalu kecil mengaitkan ini sebagai pertarungan Mega dan Jokowi. Bagi saya itu kebetulan saja,” kata Adi kepada wartawan Tirto, Selasa (28/7).
Ia menyebut ada dua “kebetulan” yang membuat Dapil Jateng V terasa istimewa. Pertama, hanya di dapil inilah Kaesang punya harapan realistis meraih kursi DPR karena kekuatan Jokowi di Solo, sementara di dapil lain ia harus bekerja jauh lebih keras.
Kedua, dapil ini sejak lama menjadi tempat Puan dan PDIP meraih dukungan kuat dan mengakar. Adi juga mencatat bahwa membandingkan PSI—partai yang belum pernah lolos parlemen—head to head dengan PDIP sebenarnya bukan perbandingan setara. Menurutnya, hanya partai besar seperti Gerindra, Golkar, atau PKB yang pantas disebut penantang sepadan bagi PDIP di Jawa Tengah.
Dari delapan kursi yang diperebutkan di Dapil Jateng V, Adi menilai pihak yang justru lebih waswas dengan masuknya Kaesang bukan PDIP, melainkan partai dengan perolehan suara terendah di dapil itu pada pemilu sebelumnya.
“Yang mestinya merasa terancam itu dewan yang perolehan suaranya paling bawah, yakni dari PKB dan PAN,” ujar Adi.

Terbit di Tirto


